Sabtu, 09 Maret 2013

Akhlak dalam Bermuamallah dengan Allah

Akhlak yang baik dalam bermuamalah dengan Allah mencakup 3 perkara:
1. Membenarkan berita-berita yang datang dari Allah.
2. Melaksanakan hukum-hukum Allah.
3. Sabar dan Ridha kepada takdir-Nya.

Jagalah Nikmat

Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap.

Sembunyikan Kebaikan

"Sebuah Kebaikan akan semakin bermutu ketika tetap tersembunyi."

Jumat, 08 Maret 2013

Tiga Nasihat

Kisah Sufi, Teladan: Tiga Nasihat

Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, "Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat."

Si Burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon, dan yang ketiga ia sudah mencapai puncak bukit.

Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.

Burung dan Telur

Kisah Sufi, Teladan: Burung dan Telur

Zaman dahulu ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga untuk terbang. Seperti ayam, ia berjalan-jalan saja ditanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang.

Karena berbagai keadaan, ada telur seekor burung yang bisa dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu. Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas. Burung kecil itu masih memiliki kemampuan untuk terbang yang diwarisi dari ibunya, yang tersimpan dalam dirinya sejak ia masih berada dalam telur.

Jalan Gunung

Kisah Sufi, Teladan: Jalan Gunung

 Pada suatu hari, seorang yang cerdas, ahli pengetahuan yang pikirannya terlatih, datang ke sebuah desa. Sebagai latihan dan telaah ilmunya, ia ingin membandingkan pandangan yang berbeda-beda yang mungkin ada dalam desa itu. Ia mendatangi sebuah warung dan menanyakan tentang seorang yang paling jujur dan seorang yang paling bohong di desaitu.

Orang-orang di warung itu sepakat bahwa orang yang bernama Kazzab adalah pembohong terbesar; dan Rastgu yang paling jujur. Ahli pengetahuan itupun mendatangi kedua orang tersebut bergantian, mengajukan pertanyaan sederhana yang sama kepada keduanya, "jalan manakah yang terbaik menuju kedesa tetangga?" Rastgu yang jujur itu berkata, "Jalan gunung."Kazzab Si Pembohong juga berkata, "Jalan gunung."Tentu saja jawaban itu membingungkan Sang Pengembara cerdas tersebut . Demikianlah, iapun bertanya kepada orang-orang lain, penduduk desa biasa. Ada yang mengatakan, "Lewat sungai;" yang lain mengusulkan, "Lewat padang saja" Dan ada yang juga mengatakan, "Jalan gunung."Akhirnya diputuskannya mengambil jalan gunung.

Orang yang Menyadari Kematian

Orang yang Menyadari Kematian

 Konon, ada seorang raja darwis yang berangkat mengadakan perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain memasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dan sebagai lazimnya --merekapun meminta nasehat kepadanya. Apa yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberitahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga: darwis itu tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjad perhatian darwis sepanjang masa. Rumusan itu adalah: "Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu maut itu apa." Hanya beberapa penumpang saja yang secara khusus tertarik akan peringatan itu.