Sabtu, 16 Maret 2013

Empat Cara Agar Dapat Bermimpi Bertemu Rasulullah SAW

Dalam tausiyahnya Al-Habib Ali Al-Jufri menyampaikan 4 cara agar bisa bertemu dengan Rasulullah SAW dalam mimpi. Empat cara itu adalah:
1. Perbanyak shalawat keatas Baginda Rasulullah SAW
2. Mengagungkan sunnah Baginda Rasulullah SAW
3. Berkhidmat dengan umat Baginda Rasulullah SAW
4. Menyebarkan dakwah Baginda Rasulullah SAW

Sembilan Prinsip Da'wah Walisongo

1. Kalimasada senjatane ( Senjatanya adalah Iman, Islam dan Ihsan yang terkandung dalam Syahadat) Artinya : selalu mendakwahkan iman, Islam, Ihsan. Mengajak umat untuk kembali kepada Allah dan setia pada Rasulullah.
2. Becik ketitik, Olo ketoro (Kebenaran akan selalu menang, dan kemungkaran akan lenyap binasa). Artinya: Dakwah Wali Songo adalah dakwah dalam kebenaran dengan cara damai. Dan Allah pasti akan menolongnya.
3. Sugih tanpa banda (Kaya tanpa modal harta).Artinya : Jangan rakus pada harta….kebahagiaan adalah ketika kita mampu mendakwahkan agama, dakwah jangan bergantung pada harta.
4. Nglurug tanpa bala (Menyerbu tanpa banyak orang/tentara).Artinya : jangan terhijab dan terpesona dengan banyaknya jumlah kita,…..karena kemenangan berasal dari pertolongan Allah. Bukan karena banyaknya pengikut.
5. Menang tanpa ngasorake (Menang/unggul tanpa merendahkan orang). Artinya : Berdakwah harus dengan cinta, damai dan lemah lembut, jangan menganggap hina musuh-musuh kita….kita pasti unggul dengan sikap tawadhu’…..jangan merendahkan org lain (jangan sombong).
6. Mulya tanpa punggawa (Mulia tanpa anak buah). Artinya : kemuliaan hanya dalam iman, takwa, akhlak dan pengamalan Islam secara Kaaffah, bukan karena banyaknya pengikut
7. Mletik tanpa sutang (Melompat jauh tanpa galah/tongkat panjang).Artinya : Niat untuk berdakwah ke seluruh penjuru alam adalah berkat pertolongan Allah, bukan karena sebab-sebab yang lain.
8. Mabur tanpa lara (Terbang tanpa sayap). Artinya : kita bergerak untuk berdakwah menjumpai umat di mana pun berada.
9. Menang tanpa tanding (Menang tanpa berperang). Artinya : Berdakwah adalah dengan hikmah, cinta, kasih, damai, kata-kata yang sopan, akhlaq yang mulia dan doa-doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah agar umat seluruh alam mendapatkan hidayah dari Allah. Bukan dakwah dengan kekerasan atau anarkis.

Jaga Mulut

Manusia yang berjaya ialah yang menutup mulutnya sebelum orang lain menutup telinga mereka.

Jangan Sok Pintar

"Orang yang bodoh itu masih bisa diharapkan menjadi pintar; tapi orang yang merasa pintar, sadar atau tidak, telah membiarkan dirinya tetap bodoh."
---KH. Musthofa Bisri (Gus Mus)---

Do'a Hamba

Sebelum kain kafan melilit ditubuhku
Pungkasilah umurku dengan menyebut asma-Mu....

Jadikan liang lahadku seindah taman syurgawi
Tiada kesusahan dan kesedihan...

Tempatkanlah aku di dalam surga-Mu yang Mulia
di sisi kekasih-Mu yang terpilih...

Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepadanya
Istri-istri, Shahabat dan orang-orang yang mengikutinya...

Sultan dan Sufi

Alkisah, seorang Sultan sedang berparade di jalan-jalan utama kota Istanbul, dengan dikelilingi para pengawal dan tentaranya. Seluruh penduduk kota datang untuk melihat sang Sultan. Semua orang memberikan hormat ketika Sultan lewat, kecuali seorang darwis yang amat sederhana.
Sang Sultan segera menghentikan paradenya dan menyuruh tentaranya untuk membawa darwis itu menghadap. Ia menuntut penjelasan mengapa darwis itu tak memberikan penghormatan kepadanya ketika ia lewat.

Spiritualitas Abu Dzarr Al-Ghifari

Kehidupan sufi tidaklah seperti yang dibayangkan orang selama ini; di ruang gua yang sempit di tengah hutan atau di puncak menara. Stigma mementingkan kesalehan pribadi dan mengabaikan kesalehan sosial yang selalu dilekatkan pada ajaran spiritual ini mungkin perlu ditelaah ulang. Jika kita mau merunut akar sejarah sufi hingga zaman sahabat Nabi, justru kita akan menemukan pribadi-pribadi yang sangat membenci dan menentang terjadinya ketimpangan sosial.

Abu Dzarr al-Ghifari adalah tokoh sufi yang sangat disegani di kalangan sahabat. Meskipun enggan dengan kekayaan, ia sangat memikirkan kesejahteraan rakyat. Beliau tidak henti-hentinya menyuarakan pemerataan ekonomi di masyarakat. Ia tidak rela melihat ketimpangan dan gap yang curam antara si miskin dan si kaya. Ia berteriak dari Syiria hingga ke pusat pemerintahan Islam di Madinah agar si kaya tidak menumpuk kekayaan pribadi.