Kehidupan sufi tidaklah seperti yang dibayangkan orang selama ini; di
ruang gua yang sempit di tengah hutan atau di puncak menara. Stigma
mementingkan kesalehan pribadi dan mengabaikan kesalehan sosial yang
selalu dilekatkan pada ajaran spiritual ini mungkin perlu ditelaah
ulang. Jika kita mau merunut akar sejarah sufi hingga zaman sahabat
Nabi, justru kita akan menemukan pribadi-pribadi yang sangat membenci
dan menentang terjadinya ketimpangan sosial.
Abu Dzarr al-Ghifari adalah tokoh sufi yang sangat disegani di kalangan sahabat. Meskipun enggan dengan kekayaan, ia sangat memikirkan kesejahteraan rakyat. Beliau tidak henti-hentinya menyuarakan pemerataan ekonomi di masyarakat. Ia tidak rela melihat ketimpangan dan gap yang curam antara si miskin dan si kaya. Ia berteriak dari Syiria hingga ke pusat pemerintahan Islam di Madinah agar si kaya tidak menumpuk kekayaan pribadi.
Abu Dzarr al-Ghifari adalah tokoh sufi yang sangat disegani di kalangan sahabat. Meskipun enggan dengan kekayaan, ia sangat memikirkan kesejahteraan rakyat. Beliau tidak henti-hentinya menyuarakan pemerataan ekonomi di masyarakat. Ia tidak rela melihat ketimpangan dan gap yang curam antara si miskin dan si kaya. Ia berteriak dari Syiria hingga ke pusat pemerintahan Islam di Madinah agar si kaya tidak menumpuk kekayaan pribadi.